Cerita Cinta Remaja

Ada dua anak remaja saling jatuh cinta,
Bella dan Rana namanya.
Cintanya ya cinta anak muda, maklum mereka masih SMA.
Walaupun belum dewasa, mereka yakin cinta mereka akan bertahan selamanya.
Sayang mereka lupa, mereka beda agama.
Bella pergi ke gereja, Rana ke musholla.

Mereka bingung harus berbuat apa.
Pupus sudah harapan untuk terus mencinta sampai tua.
Mereka marah pada Tuhan mereka.
Kenapa bisa-bisanya membedakan cinta.
Bella dan Rana putus asa setelah ditentang habis-habisan oleh orang tua dan keluarga.

Akhirnya Bella dan Rana sepakat meminum racun serangga.
Satu botol dibagi dua.
Biar lebih cepat mati katanya.
Mayat mereka pun ditemukan sehari setelahnya.

Bella dan Rana saling jatuh cinta.
Tapi apa daya, mereka akhirnya menjadi kisah tragis nyata
tentang cerita cinta remaja (yang sayangnya) beda agama.

0 notes

Having A Child Is A Serious Matter

Menggendong anak lo saat tangan yang lain memegang rokok kemudian menghembuskan asapnya adalah salah satu tindakan yang mencerminkan bahwa lo ga menganggap hal ini serius. Saat memutuskan untuk mempunyai anak berarti lo udah setuju dan menyanggupi bahwa lo akan bertanggung jawab penuh atas perkembangan anak ini nantinya, baik secara moril, materil hingga spiritual sampai masa bakti lo sebagai orang tua selesai.
Terlepas dari masalah ayah-yang-dengan-selfishnya-ngerokok-sambil-gendong-anaknya-ini, saya prihatin banget liat pasangan-pasangan sah yang udah mampu secara lahir batin punya anak tapi belom dikasih sama Allah sementara banyak anak-anak dibuang gara-gara ayah ibunya cuma mau pas”bikinnya” doang.

Again, deciding to have a child is a very serious matter. Do you take it seriously?
If you cant’ afford to have a baby, then don’t make one!

Sincerely,
Soon-to-be-a-mother *AAMIIN

9 notes

Cerita di Meja Panjang Kantin

Kita bertemu dalam suatu sesore yang tidak begitu spesial.
Kau dengan laptop berlogo apelmu mengambil tempat di sebelahku.
Di meja panjang kantin luas ini kau mengambil tempat di situ.
Seperti tahu bahwa beginilah awal ceritanya.
Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu kau juga belum menengok ke sebelah, ke arahku.
Sekedar bertanya jam, menawarkan makanan atau apapun lah.
Yang penting ada tatap mata dan tegur sapa.
Alasan tak masuk akal pun bagiku tak apa-apa.

Dari sore hingga hampir larut malam aku masih di sebelahmu.
Diacuhkan seakan memiliki dunia masing-masing.
Padahal aku telah mengarang berbagai skenario di kepala,
tapi tak ada satu pun yang kau buat nyata.
Sampai akhirnya kau beranjak, kau dan laptop apelmu.
Tanpa sempat menyapa apalagi bertukar nama.

Sudah seminggu sejak hanya dipisahkan kekakuan meja panjang kantin, kita bertemu lagi.
Kau dikenalkan oleh temanku yang ternyata sahabat baikmu.
Kita pun bertukar nama, tak hanya saling sapa.
Dan ternyata kau ingat semua.

“Eh, kita kan pernah sebelahan di kantin waktu itu. Sama-sama main laptop. Tapi kayaknya kamu serius banget. Ga nengok-nengok ke samping. Saya sampe segan mau nyapa.”

4 notes