welcome and have a great time

  • Archive
  • RSS
  • Ask me anything

Banyak Cerita di Jogja

The title may referred to “Many stories happened in Jogja” but doesn’t sound rhyming in English, so I stick in Bahasa. Hehe.

So, what the stories?

I’ll tell you. In December 2010, I went to Jogja for a short holiday along with my three college friends. Well, actually there was only two of my friends. Then one of my friends asked his other friend to join us and along the way we made friends. So there was the four of us; me, Rian, Dhika and Dhika’s-friend-then-become-one-of-my-friends-too-why-I-have-to-explain-please-stop-me-now Dhanny. We were heading Jogja for this five days (note: 2 days on road are included) holiday slash escapism by economy train at 9 pm.

(Note: I don’t say numbers here because it might happen an inflation. But you could contact me for the details.)

We arrived the next day safe and sound only got a little backache caused by cheap transportation’s chair. Anyway, in this first day we planned to go to Gua Cerme (Cerme Cave) and Depok beach (we thought that Parangtritis was too overrated. Hahaha). After found a cheap yet clean enough hostel and picked up the motorcyles at the rental, we headed to southern Yogyakarta to start today’s itinerary.

DAY 1

We arrived at Dusun Srunggo, about 20 kilometers from Yogyakarta, after hours of motorcyle riding (No, I’m not driving actually. I was sit calmly on passenger seat and enjoyed the picturesque sight while Rian were driving. Hihi)

image
“Mystical ambience welcomes you at Gua Cerme. Even so, Dhika and Dhanny can not wait for caving experience.”

Actually Gua Cerme itself is not a famous tourism spot. Which means, we still could found this quiet yet relaxing little village. Moreover, there were a local who sold a cheap foods and beverages and tasted good! Double yeay! :D

image
“One thing that I love being in not-a-famous-tourism-spot, a natural tradition in which not commercialized. So relaxing and mind peace.”

imageimageimageimage
“Great food, great companions. How can I not be grateful?”

Off to caving thing. This was the first time I do caving with the water or so called a river inside the cave. Wasn’t that bad if I brought clothes to change. See, I was all wet! Nothing is so special except the watery part. The guide, sorry forgot his name, said that the cave was often visited by some sort of people who have or seek mystical power to meditate. Creepy huh.

image
“Say hello to the guide. :) Yes, that’s me on the right side. The water is just above my thigh! I am so drowned! *photo credit to Rian”

Racing to catch the sunset, we were moved on the next place, Depok Beach. Located near to Parangtritis Beach and Gumuk Pasir Parangkusumo (Parangkusumo Sand Dune), Depok beach is the other reference to enjoy the sunset. But unfortunately, that afternoon were cloudy so we were just playing around until it was dark. Couldn’t wait for tomorrow! Hoyaaaa!

image
“The cloud was dark and heavy. We could barely see the sun about to set. But Dhika was still trying to catch the sunset with his camera.”

DAY 2

- Where you were going for the second day?
+ Do you know Sendangsono?
- Hmm, no.

Okay, this was the second day of our escapism. One of my friend, Dhika, offered us to go to Sendangsono. If you ever watched Indonesian film, 3 Hari Untuk Selamanya (3 Days to Forever), you’ll find Sendangsono is a place where Ambar greeted the Holy Mary and prayed. Then, what’s so special about this place? After another hours driving with a rental motorcycle and passing through damage roads at the foot of Menoreh hill, we will find out what.

image
“Gereja Promasan or Gereja St. Maria Lourdes - Promasan listed as one of the cultural heritage in the Department of Culture Yogyakarta. This is one of the oldest Catholic churches in Java, built some time later after Catholic missionaries began to take part in Muntilan, Central Java.” - Wikimapia.org

We were arrived at Desa Banjaroyo where Sendangsono is located at noon. Initially, Sendangsono was not addressed to mention a place name. In Javanese term, Sendang means water spring and Sono is a name of a tree. Therefore, Sendangsono is a term for the springs under the Sono tree. But later on, people are become familiar with the name Sendangsono.

Sendangsono itself is a place where catholic’s pilgrim goes. Although neither me or my friends is a catholic, we still excited visiting Sendangsono. More to feel the tranquility and solemnity of the place. Tourist mode: on. Hahahaha.

image
“A stair from paving blocks welcomes you to Sendangsono. Sugeng rawuh! *Sugeng rawuh means selamat datang in Javanese.”

No wonder that the place designed by Father Y.B Mangunwijaya Pr won AGA Khan Awards, such an enchanting place to stay and pacify. Surrounded by buildings dominated by stone as the material and shaded big trees, you can also enjoy the sound of the flowing river underneath the bridge. Very calming.

image
“Photo credit goes to Dhika.”

imageimageimageimage
“Artsy yet religious. Thanks to Father Y.B Mangunwijaya PrĀ  to design such a beautiful place. Not only for pilgrim but also for tourist, like us. Hehe.”

imageimage
“The Pilgrims and The Tourists.”

- Again, what’s so special about this place?
+ Oh come on. You’ve seen it right?

    • #photography
    • #travel
    • #writings
    • #jogja
  • 1 month ago
  • 2
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada hari ini?
Pada angin semilir basah musim hujan,
pada langit teduh dan udara sejuk,
pada jalanan lengang pinggiran kota,
pada kursi panjang teras rumah kita,
pada kepulan asap teh hangat di cangkir keramik,
pada senyum di setiap akhir kata,
pada kecup di ujung senja.

    • #poem
    • #writings
    • #random
  • 2 months ago
  • 2
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Mantra Doa

laju-laju kereta
deru-deru suara
apakah Tuhan mendengar hamba?

malam teduh cahaya
bundar bulan purnama
hamba mengirim doa
mohon diterima

2011

    • #random
    • #writings
  • 4 months ago
  • 2
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Dari Kisah Sepotong Senja untuk Alina

“Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala”

Dari semua temanku, aku paling iri pada Alina. Bukan karena senyumnya yang manis. Bukan juga karena semua laki-laki yang kutaksir tak ada yang melirikku karena senyum manis Alina. Tapi karena Alina punya sepotong senja yang dikirimkan pacarnya dalam amplop yang tertutup rapat, lengkap dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Cantik sekali. Sejuta lelaki menggilai Alina pun aku takkan iri asalkan amplop yang di dalamnya terdapat sepotong senja itu aku miliki.

Alina selalu membawanya kemanapun ia pergi. Tak pernah bosan ia mengulang cerita bahwa ia sangat disayang pacarnya. Sampai-sampai pacarnya rela jadi buronan polisi serta orang-orang yang tidak rela senjanya dipotong dan dilukai.

Sukab yang malang. Selama menceritakan kisah sepotong senjanya, Alina tak pernah menyebut nama Sukab dengan nada sayang, khas anak muda yang dimabuk asmara. Dia selalu menyebut nama Sukab dengan nada bangga, persis seorang pawang yang berhasil menaklukan singanya. Sukab dimanipulasi Alina. Alina tidak pernah benar-benar mencintai Sukab.

Sudah beberapa hari belakangan ini aku sering menghabiskan waktuku di sini. Ditemani sepotong senja yang mulai menua, lengkap dengan burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Membayangkan apa yang akan kulakukan jika saja sepotong senja itu diberikan untukku, bukan Alina. Ah sungguh sayang, Sukab bertemu Alina lebih dulu, bukan aku.

Menjelang malam seorang pria berwajah sayu melintas dan mengambil tempat di sebelahku. Malam begitu cantik tapi tak sedikitpun ia berani intip. Ia menutup matanya sambil rebahan. Tangannya disandarkan di belakang kepala. Wajahnya murung, sampai-sampai kukira ia hampir menangis. Kudekati ia sambil kuulurkan tangan.

“Halo saya Lana. Maaf mengganggu, kamu terlihat begitu muram. Ada yang bisa saya bantu?”

Pria berwajah muram itu membuka matanya, bangun dan menyambut tanganku.

“Saya Sukab. Saya sedang patah hati. Saya kehilangan sepotong senja karena wanita yang tidak pernah benar-benar mencintai saya.”


*Terinspirasi dari cerpen Seno Gumira Ajidarma berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku.

    • #writings
    • #Seno Gumira Ajidarma
  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Pernah sekali aku berkata,
“Sebaiknya kita jangan sering-sering bertemu. Biar kau tahu rasanya rindu.”
Tapi nampaknya kali ini aku yang kena batunya.
Berlagak jual mahal padahal hampir gila.
Semua indera serasa menagih ingin sesuatu yang nyata.
Bukan cuma imaji lewat tulisan atau suara.

Sabtu malam nanti kutunggu kau di beranda.
Awas saja kalau kau tak datang juga!

    • #writings
    • #rindu
  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Romansa itu ada di bawah payung saat hujan turun.
Ada di kursi depan saat berkendara malam di tol dalam kota.
Dan ada di sebelahmu saat senja mulai menua.

    • #romansa
    • #writings
  • 11 months ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Cerita Cinta Remaja

Ada dua anak remaja saling jatuh cinta,
Bella dan Rana namanya.
Cintanya ya cinta anak muda, maklum mereka masih SMA.
Walaupun belum dewasa, mereka yakin cinta mereka akan bertahan selamanya.
Sayang mereka lupa, mereka beda agama.
Bella pergi ke gereja, Rana ke musholla.

Mereka bingung harus berbuat apa.
Pupus sudah harapan untuk terus mencinta sampai tua.
Mereka marah pada Tuhan mereka.
Kenapa bisa-bisanya membedakan cinta.
Bella dan Rana putus asa setelah ditentang habis-habisan oleh orang tua dan keluarga.

Akhirnya Bella dan Rana sepakat meminum racun serangga.
Satu botol dibagi dua.
Biar lebih cepat mati katanya.
Mayat mereka pun ditemukan sehari setelahnya.

Bella dan Rana saling jatuh cinta.
Tapi apa daya, mereka akhirnya menjadi kisah tragis nyata
tentang cerita cinta remaja (yang sayangnya) beda agama.

    • #writings
  • 1 year ago
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Having A Child Is A Serious Matter

Menggendong anak lo saat tangan yang lain memegang rokok kemudian menghembuskan asapnya adalah salah satu tindakan yang mencerminkan bahwa lo ga menganggap hal ini serius. Saat memutuskan untuk mempunyai anak berarti lo udah setuju dan menyanggupi bahwa lo akan bertanggung jawab penuh atas perkembangan anak ini nantinya, baik secara moril, materil hingga spiritual sampai masa bakti lo sebagai orang tua selesai.
Terlepas dari masalah ayah-yang-dengan-selfishnya-ngerokok-sambil-gendong-anaknya-ini, saya prihatin banget liat pasangan-pasangan sah yang udah mampu secara lahir batin punya anak tapi belom dikasih sama Allah sementara banyak anak-anak dibuang gara-gara ayah ibunya cuma mau pas”bikinnya” doang.

Again, deciding to have a child is a very serious matter. Do you take it seriously?
If you cant’ afford to have a baby, then don’t make one!

Sincerely,
Soon-to-be-a-mother *AAMIIN

    • #writings
    • #random thought
  • 1 year ago
  • 9
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

Cerita di Meja Panjang Kantin

Kita bertemu dalam suatu sesore yang tidak begitu spesial.
Kau dengan laptop berlogo apelmu mengambil tempat di sebelahku.
Di meja panjang kantin luas ini kau mengambil tempat di situ.
Seperti tahu bahwa beginilah awal ceritanya.
Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu kau juga belum menengok ke sebelah, ke arahku.
Sekedar bertanya jam, menawarkan makanan atau apapun lah.
Yang penting ada tatap mata dan tegur sapa.
Alasan tak masuk akal pun bagiku tak apa-apa.

Dari sore hingga hampir larut malam aku masih di sebelahmu.
Diacuhkan seakan memiliki dunia masing-masing.
Padahal aku telah mengarang berbagai skenario di kepala,
tapi tak ada satu pun yang kau buat nyata.
Sampai akhirnya kau beranjak, kau dan laptop apelmu.
Tanpa sempat menyapa apalagi bertukar nama.

Sudah seminggu sejak hanya dipisahkan kekakuan meja panjang kantin, kita bertemu lagi.
Kau dikenalkan oleh temanku yang ternyata sahabat baikmu.
Kita pun bertukar nama, tak hanya saling sapa.
Dan ternyata kau ingat semua.

“Eh, kita kan pernah sebelahan di kantin waktu itu. Sama-sama main laptop. Tapi kayaknya kamu serius banget. Ga nengok-nengok ke samping. Saya sampe segan mau nyapa.”

    • #writings
  • 1 year ago
  • 4
  • Permalink
Share

Short URL

TwitterFacebookPinterestGoogle+

About

a wanderlust / a paperback writer / a photographer / self-proclaimed genius
  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Ask me anything
  • Mobile
Effector Theme by Pixel Union